I.
BABAK BARU KEMELUT PARTAI GOLKAR
Rasanya tak ada henti –
hentinya gonjang - ganjing politik ditubuh partai Golkar. Pada awalnya saya
mempercayai bahwa perpecahan ini adalah hanya upaya setting pangung politik
saja untuk bargaining position partai saja dengan pemerintah, seperti drama
politik dua kaki yang selama ini di praktekkan oleh Golkar. Namun ternyata
dugaan saya keliru seratus persen, ternyata golkar ternyata telah mengalami
pergeseran budaya partai dan kepentingan partai. Pada awalnya mereka hanya
mempercayai bahwa tidak ada hal yang lebih penting selain partai golkar itu sendiri, dibanding
tentang siapa yang memegang kekuasaan di dalam Golkar.
Paradigma itu telah
bergeser kepada kepentingan kekuasaan saja, dan telah susah untuk di
konsolidasikan antara kepentingan penguasa satu dengan penguasa lainnya di
tubuh partai Golkar, dan kini golkar telah turun derajat seperti partai - partai
lainnya yang pengurusnya sibuk mengurusi perutnya sendiri - sendiri dibanding
kebesaran nama partai golkar sebagai rumah besar.
Pertarungan kubu Abu
Rizal Bakrie (Ical) dan Agung Laksono ini nampaknya belum juga menemui
jalannya, dan justru semakin meruncing kepada perpecahan. Pasca sidang Mahkamah
Partai Golkar yang dipimpin oleh senior golkar Prof Muladi, ditambah lagi
dengan adanya surat keputusan dari Menkum-Ham belum juga mampu menghentikan
pertarungan kedua belah kubu, dan justru membuat kubu Ical semakin meradang,
dan membuat upaya benturan politik semakin meluas.
Pasca munculnya surat
keputusan dari Menkum Ham kubu Ical tidak berdiam diri, dengan sigap dan gerak
cepat mengumpulkan DPD I dan II yang diklaim oleh pihaknya dihadiri sekitar 400
orang yang bertajuk rapat konsultasi nasional. Pada situasi yang lain juga
pertarungan antara kedua kubu semakin panas, sebagaimana wawancara langsung di
salah satu stasiun tv kubu Ical yang diwakili oleh Ali Muchtar Ngabalin dan
KubuAgung yang diwakili oleh Yoris Raweyai. Dalam wawancara tersebut mereka
saling tuding bahwa munas mereka lah yang paling sah, dan munas lainnya
“abal-abal”, dan kemudian dari wawancara itu berbuntut panjang sampai terjadi
pemukulan oleh orang yang tidak dikenal kepada Ali Muchtar Ngabalin saat
menghadiri gelar pertemuan di hotel Sahid.
Konsolidasi yang
digelar oleh kubu Ical menyepakati bahwa pihak Ical akan mengajukan gugatan ke
pengadilan Jakarta Barat tentang keabsahan dualisme kepengurusan ini. Pada
situasi yang lain, pihak koalisi KMP yang diwakili oleh Akbar Tanjung dan Amien
Rais pun turun gunung untuk menyampaikan kekecewaannya kepada pemerintah
(menkum Ham) diberbagai media. Mereka menandaskan bahwa pemerintah sesegera
mungkin menghentikan intervensinya kepada Partai Politik yang tengah berkemelut
(Golkar dan PPP), dan memberikan kekeluasaan kepada Partai Politik untuk
menyelesaikan kemelutnya. Selain langkah upaya hukum yang ditempuh, mereka juga
menempuh jalur politik dengan mengelindingkan isu akan mengajukan hak angket
via komisi III untuk menyelidiki keputusan menkum Ham mengenai pengesahan
kepengurusan Golkar kubu Agung Laksono.
Jika kubu Ical sibuk
untuk melakukan counter atas keputusan yang disampaikan oleh MenkumHam, maka
hal berkebalikan dilakukan oleh kubu Agung Laksono. Karena merasa telah
mendapatkan pengakuan secara yuridis atas kepengurusannya di Golkar dari
MenkumHam, mereka langsung mengelar berbagai pertemuan, baik untuk melakukan
konsolidasi maupun safari politik untuk mendapatkan legitimasi dari pihak
eksternal.
Langkah Agung Laksono
konsolidasi dilakukan untuk kembali menata ulang dan melakukan restrukturisasi
organisasi baik di level DPD I dan DPD II, hingga tidak segan-segan melakukan
pengantian kepengurusan yang dianggap tidak berpihak dengan kepengurusan Agung
Laksono. Untuk membangun legitimasi publik atas keabsahan kepengurusannya,
pihak agung laksono langsung melakukan safari politik ke Nasdem sekaligus menegaskan
bahwa Golkar akan segera merapat ke KIH.
Apa yang akan terjadi
di kemudian hari jika terus konflik?
Konflik politik yang
tidak kunjung selesai ini sejatinya telah menggerus banyak tenaga, baik di
internal partai Golkar maupun masyarakat. Rasanya susah sekali untuk move on
dan segera fokus untuk membangun bangsa. Bukan tidak mungkin akan terjadi
perpecahan dalam tubuh Golkar jika terjadi secara berlarut-larut dan bisa saja
Golkar akan tertinggal momentum penting Pilkada langsung. Keberadaan Golkar di
daerah yang masih kuat dan perpecahan yang terjadi di tingkat kepengurusan DPP
akan mengobrak-abrik soliditas partai di level daerah. Sudah barang tentu jika
hal ini terjadi maka Golkar akan tidak dapat apa - apa dalam level pertarungan
di Daerah.
Pada level Nasional pun saya kira akan terjadi hal yang sama, perpecahan kepengurusan ini akan berdampak pada soliditas fraksi golkar di senayan, dengan demikian Golkar akan kembali gigit jari karena tidak akan mendapatkan apa-apa dari pertarungan ini. Justru yang akan di untungkan adalah partai - partai seperti hal nya Demokrat, Nasdem, Gerindra, dan lain - lainnya. Selain itu, dari upaya memperoleh kemenangan dari pertarungan ini akan membuat konsentrasi dan fokus partai Golkar dalam capaian target partai dalam berbagai pemilu baik Pilkada maupun nasional akan terjadi penurunan secara drastis, hal ini dikarenakan energi mereka telah habis terkuras dalam pertarungan internal, juga akan kesulitan untuk mengkonsolidasi perpecahan di daerah.
Dengan demikian dapat
diyakini bahwa perolehan suara partai golkar akan anjlok sebagaimana nasib yang
dialami partai Demokrat pada pemilu yang lalu, dan akan ditinggalkan oleh
konstituennya pada saat mendatang.
Sebagai partai yang
besar dan telah kenyang bermain dalam pangung politik, seharusnya mereka
sesegera mungkin bisa keluar dari kemelut ini. Berlarut - larutnya konflik ini
tidak akan membawa keuntungan bagi partai, namun hanya memuaskan hasrat politik
sebagian orang saja dalam upayanya membangun dan mempertahankan kekuasaan.
Capain partai golkar yang pasca reformasi hingga kini tetap dinobatkan sebagai
partai terbesar diantara PDIP dan lainnya, seharusnya disadari sebagai sebuah
kepercayaan masyarakat yang harus tetap dijaga dengan baik. Bukan justru
berkonflik untuk berebut kekuasaan didalam, yang justru akan membawa dampak
kerugian bagi partai sendiri.
I.
DEMOKRAT VS GOLKAR, ATAU SEKEDAR DAGELAN?
Bukan sekali ini saja
pertengkaran kader Demokrat dan Golkar pernah tersulut. Demokrat dan sejumlah
parpol baru bisa dikatakan merupakan sempalan dari Golkar, itu jika melihat
dari manuver kader-kadernya. Bicara soal kader, dahulu pernah ada isu rasisnya
om Poltak yang bikin Fuad Bawazier. Nah, sekarang ada lagi isu pencemaran nama
baik antara Ramadhan Pohan dan Ical. Makin ramai saja sandiwara politik yang
ditampilkan di DPR, lebih seru dan lebih lebai. Pintarnya lagi si Ramadhan
Pohan mengambil momentum dengan membawa nama aspirasi rakyat. Oh, jadi kalau
menyangkut partai lain labelnya aspirasi rakyat, sedangkan kalau menyangkut
partai sendiri labelnya apa ya?
Sebaiknya Ramadhan
Pohan itu kalau mau bicara aspirasi rakyat, lihat dulu ke dalam partainya.
Bagaimana aspirasi rakyat atas konflik yang terjadi di negara dan menyangkut
rekan-rekan sejawatnya di Demokrat. Tetapi bisa jadi karena Demokrat sedang
disudutkan oleh media-media mainstream makanya si Pohan yang satu ini hendak
mengambil momentum membersihkan citra kader-kader Demokrat. Paling tidak kalau
sedang ada Anas atau Angie yang lagi disorot publik dengan pemberitaan negatif,
tetapi ada pula yang mirip Ramadhan Pohan yang masih memerhatikan rakyat.
Masyarakat seperti sedang disajikan permainan spekulasi segelintir manusia berkedok "penyelenggaraan kepemerintahan", tidak bisa ikut andil namun dampaknya dapat dirasakan. Hanya jadi penonton yang setiap 4 tahun sekali harus memilih dan memberikan suaranya dengan terpaksa, dipaksa oleh keadaan yang serba carut marut dan harapan absurd bahwa kutukan ini segera berakhir.
Sementara Golkar
sendiri, jika melihat secara personal kadernya semisal Ical yang marah
dikaitkan dengan perusahaan di Bima dan istilah "Mesin ATM" yang
digunakan oleh Ramadhan Pohan, jelas tak ingin isu tersebut menciderai
popularitas dirinya dan juga partai yang dia pimpin. Adapun Pohan tampaknya
berusaha membidik soal dana-dana yang masuk ke partai jebolan orde baru itu. Di
sisi lain saat ini partainya sedang dibongkar, baik oleh media, LSM, DPR dan
juga dicurigai masyarakat seputar aliran dananya. Lihat saja keterangan
Nazaruddin mengenai sejumlah uang yang beredar di acara kongres Demokrat.
Artinya, sumber
keuangan partai pemenang pemilu itu sedang dibedah mengenai kehalalannya. Lalu
apakah Pohan justru ingin berbalik menyasar kepada Golkar yang mana fraksi
partai beringin tersebut paling getol berkoar sejak pansus Century, dan
menyerempet kepada sejumlah oknum kader partai Demokrat. Apakah isu ini akan
menjadi bola panas yang bergulir menabrak partai - partai besar sehingga mereka
harus pasang badan? Dan apakah karena keberadaan isu ini maka Setgab koalisi
akan bubar grak jalan? Kita tunggu saja kelanjutan sinetron ini hingga season
berikutnya.
Hahaha...
"Memerhatikan suara rakyat" adalah jargon dan slogan yang paling
gampang dimanipulasi. Kalau aktornya menyangkut kelompok keagamaan biasanya
kata rakyat diganti kata umat. Saya ingat sekali waktu si Ical pidato dan
ditayangkan TVOne, tentang visi Indonesia 100 tahun ke depan menurut versinya,
yakni gambaran bangsa yang besar dan bermartabat. Namun bagaimanakah caranya
agar bangsa ini menjadi bermartabat kalau dididik dengan intrik politik yang
culas, lebai, korup, mafioso, dsb. Yang ada malah bangsa ini tetap saja jadi
cheerleader bangsa lain.
Menariknya adalah
adanya pertengkaran-pertengkaran macam ini justru semakin membikin laku para
pengamat untuk tampil berbusa di televisi bikin prediksi macam cenayang. Pun
stasiun televisinya tambah asoy, karena media saat ini juga sudah jadi corong
partai politik atau pemodal-pemodal kakap.
Indonesiah, Indonesiah,
saya cari aman dan pragmatis saja ah. Daripada ikut-ikutan menyuarakan aspirasi
rakyat dan memberikan suara saya di ajang pemilu, lebih baik masuk partai
abstain sejahtera.
SUMBER :
http://www.kompasiana.com/aguslilik/babak-baru-kemelut-partai-golkar_552a10a2f17e612753d623d4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar